Kaidah Kebahasaan Teks Cerpen

Setelah kemarin kita membahas materi teks cerpen atau cerita pendek secara lengkap dan tuntas, ternyata masih ada 1 bagian dari teks cerpen yang masih belum saya beritahukan. Bagian tersebut adalah kaidah kebahasaannya. Lalu, mengapa tidak dimasukkan ke dalam artikel kemarin saja tentang teks cerpen? Karena saya rasa bahasan kaidah kebahasaan teks cerpen sendiri tidak sedikit dan jika disatukan dengan artikel yang kemarin maka artikelnya akan menjadi sangat panjang.

Kaidah Kebahasaan Teks Cerpen Pintar Sekolah

Sama seperti teks-teks yang ada pada Bahasa Indonesia lainnya, teks cerpen juga memiliki kaidah kebahasaannya sendiri yang membangun kalimat-kalimat yang ada didalamnya.

Lalu, apa saja kaidah kebahasaan pada teks cerpen? Berikut ulasan lengkapnya.

1. Ragam Bahasa Sehari-Hari atau Tidak Formal


Kaidah kebahasaan yang pertama pada sebuah teks cerpen adalah ragam bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari dan merupakan bahasa tidak formal atau resmi.

Teks cerpen merupakan sebuah karya sastra fiktif yang menceritakan kisah seorang tokoh dan bukan merupakan sebuah karya ilmiah yang harus menggunakan bahasa baku dalam isinya.

Selain itu, kita juga bisa dengan mudah menemukan sebuah dialog atau ujaran langsung yang diutarakan oleh para tokohnya. Contohny seperti ujaran langsung seorang tokoh pada teks cerpen "Aku dan Cita-Citaku".

“Coba deh kamu pikir alasan kamu ingin jadi psikolog, penyiar, novelis, pasti ada alasannya, kan?” potong kak Ruri. “Aku ingin jadi psikolog karena aku ingin memotivasi orang. Aku ingin jadi penyiar karena aku menganggap pekerjaan itu asyik. Aku ingin novelis karena aku suka nulis. Aku ingin jadi guru karena…”

Dengan menggunakan ragam bahasa sehari-hari yang mudah dipahami pembaca dan adanya berbagai macam ujaran langsung para tokohnya membuat teks cerpen menjadi jauh lebih menarik.

2. Kosakata


Selanjutnya, ada kosakata. Dalam sebuah teks cerpen, tentu terdapat banyak sekali susunan kata. Nah, pada bagian ini lah kemampuan sang pengarang diuji. Pengarang teks cerpen diharuskan mengetahui banyak kosakata dan bisa dengan mudah menempatkannya atau menyusunnya dengan kosakata lainnya agar menjadi sebuah kalimat yang menarik.

Diksi atau pilihan kata dalam sebuah teks cerpen juga bisa menggambarkan kualitas dari isinya. Dan berikut dibawah ini adalah beberapa contoh kosakata dalam teks cerpen "Aku dan Cita-Citaku".
  • Antusias = bergairah; bersemangat.
  • Kriteria = ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu
  • Motivasi = dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
  • Monoton = selalu sama dengan yang dulu; itu-itu saja; tidak ada ragamnya
  • Mantan = bekas pemangku jabatan, (catatan: eks/bekas kekasih)
  • Profesi = Bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dsb.) tertentu
  • Reporter =  penyusun laporan, wartawan
  • Risiko = akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.
  • Strategi = rencana yang cermat kegiatan untuk mencapai sasaran khusus

Baca Juga

3. Majas atau Gaya Bahasa


Majas atau gaya bahasa adalah sebuah susunan kata yang menjadi sebuah kalimat yang memberikan arti sedikit menyimpang dari kata yang ada pada kalimat tersebut guna menghidupkan teks dan meningkatkan efek serta menimbulkan makna konotasi tertentu.

Majas juga sering disebut sebagai bahasa kiasan. Setidaknya terdapat kurang lebih 60 macam majas, namun Gorys Keraf mengelompokkannya menjadi 4 kelompok majas, yakni majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran dan majas penegasan.

Namun, biasanya dalam satu buah teks cerpen hanya terdapat beberapa macam majas saja. Berikut dibawah ini beberapa macam majas yang sering muncul dalam sebuah teks cerpen.

1. Majas Metafora. Majas metafora adalah majas yang membandikan dua hal yang berbeda secara analogis.
2. Majas Metonimia. Majas metonimia adalah majas yang menggantikan sebuah kata umum dengan kata lainnya yang masih memiliki hubungan yang erat.
3. Majas Simile. Majas simile sekilas hampir mirip dengan majas asosiasi atau majas perumpaan. Namun, majas simile bukan membandingkan dua hal yang berbeda, melainkan menyandingkan sebuah kegiatan dengan ungkapan dan biasanya dilengkapi dengan kata hubung, seperti : layaknya, ibarat, umpama, bak, bagai dan lain sebagainya.

Pengertian majas diatas saya kutip dari artikel Bahasa Indonesia lainnya yang ada di blog Pintar Sekolah ini karena memang artikel lengkap seputar macam-macam majas dan contohnya sudah pernah saya publikasikan di blog ini.

4. Kalimat Deskriptif


Dan kaidah kebahasaan yang terakhir pada sebuah teks cerpen adalah kalimat deskriptif. Kalimat deskriptif adalah kalimat yang menggambarkan sesuatu, seperti suasana, latar tempat, atau tokoh dalam cerpen.

Berikut dibawah ini salah satu contoh kalimat deskriptif yang ada di teks cerpen "Aku dan Cita-Citaku".

Aku menatap lalu lalang mobil dengan pandangan bingung. Bus yang membawaku pulang ke rumah melaju kencang atau bisa dibilang ugal-ugalan. Jujur, aku bingung. Kejadian di sekolah tadi masih mengganggu pikiranku. Memang bukan kejadian besar, tetapi itu membuatku berpikir keras dan berusaha mencari kejelasan atas apa yang aku lakukan.

Contoh kalimat deskriptif diatas menggambarkan suasana hati tokoh aku dan suasana didalam bus yang mengantarkannya pulang ke rumah.

Itu dia penjelasan singkat tentang kaidah kebahasaan teks cerpen. Mungkin pada artikel berikutnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia saya akan membagikan beberapa contoh teks cerpen. Tunggu saja ya.

Nantikan artikel menarik lainnya tentang Bahasa Indonesia hanya di blog Pintar Sekolah. Mohon dikoreksi jika ada yang salah dan jangan lupa bagikan ke teman-teman kamu.

Seorang siswa dari XI RPL 1 dan bersekolah di SMKN 1 Karawang. Hobi menulis dan sangat menggemari dunia web development, internet dan desain.

2 komentar

bahasa sehari-hari lebih nikmat mas anas...

Betul mas Ikhwan. Cerpen memang biasanya menggunakan bahasa sehari-hari tapi pengarang menyisipkan beberapa gaya bahasa atau majas guna menghidupkan cerita :)

Silahkan berkomentar atau berpendapat melalui form dibawah. Berkomentarlah sesuai dengan isi artikel, link tidak akan ditampilkan, dan komentar yang mengandung unsur SARA tidak diperkenankan.
Jadilah orang yang bijak dan bisa menghargai orang lain
EmoticonEmoticon