Sejarah dan Latar Belakang Perang Diponegoro

Tags

Setelah sebelumnya membahas materi tentang kolonialisme dan imperialisme, sekarang kita juga masih membahas tentang sejarah negara Indonesia. Untuk membuat negara ini merdeka, diperlukan banyak sekali usaha yang yang harus dilakukan dan tak sedikit juga banyak para pahlawan yang dikorbankan. Ir. Soekarno pernah berkata "Jangan sekali-kali melupakan sejarah". Oleh karena itu mari kita kembali mengingat sejarah Indonesia melalui artikel kali ini yang akan membahas tentang salah satu perang besar yang pernah terjadi di pulau Jawa, yaitu perang Diponegoro.


Sejarah dan Latar Belakang Perang Diponegoro Pintar Sekolah

Perang Diponegoro juga dikenal dengan nama perang Jawa. Orang-orang Belanda lebih sering memanggilnya perang Jawa karena lokasinya yang memang terletak di pulau Jawa, lebih tepatnya Yogyakarta. Sementara masyrakat Indonesia lebih sering menyebutnya dengan nama perang Diponegoro karena tokoh yang paling berperan dalam perang tersebut adalah pangeran Diponegoro.

Sejarah Perang Diponegoro


Perang Diponegoro ini berlangsung selama 5 tahun, lebih tepatnya dari tahun 1825 hingga 1830. Perang Jawa tersebut juga memakan korban sekitar 15.000 jiwa dari pihak Belanda yang terdiri dari 8.000 orang Eropa dan 7.000 orang Pribumi. Sementara sedikitnya 200.000 orang tewas dari pihak Diponegoro untuk melawan penjajahan Belanda ini.

Selain melawan para militer Belanda, perang ini juga sempat melawan para saudara karena mereka lebih mendukung pihak Belanda.

Latar Belakang Perang Diponegoro


Sejarah dan Latar Belakang Perang Diponegoro Pintar Sekolah
Pangeran Diponegoro

Perang Diponegoro memiliki berbagai macam latar belakang dan penyebab yang membuat perang tersebut meletus. Diantara sekian banyaknya penyebab terjadinya perang tersebut, blog Pintar Sekolah sudah merangkum latar belakang dan penyebab utamanya dari beberapa sumber yang ada di internet. Berikut hasil rangkuman blog Pintar Sekolah tentang latar belakang perang Diponegoro.

Awalnya, perang ini terjadi karena masalah internal keraton Yogyakarta. Pada saat itu, Patih Danureja IV yang mendapat utusan dari Belanda dan merupakan pendukung setia pihak Belanda menyuruh beberapa petinggi dan pejabat Kesultanan Yogyakarta untuk membangun sebuah jalan.

Pembuatan jalan tersebut ternyata telah melewati tanah milik pangeran Diponegoro yang juga masih kerabat dari Kesultanan Yogyakarta, selain itu jalan yang dibangun tersebut juga melewati daerah rumah nenek sang pangeran yang berada di Tegalrejo. Dan hal yang paling parah adalah pemakaman keluarga Diponegoro sampai digusur gara-gara pembuatan jalan tersebut. Hal ini jelas membuat Diponegoro sangat marah.
Baca Juga
Tetapi, sumber lain mengatakan bahwa menurut Abdul Qodir Jaelani masalah utama yang menjadi penyebab terjadinya perang Diponegoro adalah adanya campur tangan para penjajah (Belanda dan Inggris) dalam pemerintahan kesultanan.

Para penjajah secara tersirat dengan bebas mengatur kesultanan bahkan sah atau tidaknya kedudukan sultan harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari Belanda. Tentunya keadaan ini sangat menguntungkan bagi mereka, ditambah lagi mereka akan membuang para pangeran yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Dan salah satu pameran yang dibuang adalah Diponegoro. Akhirnya Diponegoro dan beberapa pangeran lain melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap Belanda secara terang-terangan.

Terkait pembuatan jalan yang dibuat oleh Belanda, Diponegoro memerintahkan para pegawainya untuk mencabut tonggak tanda pembuatan jalan yang dipimpin oleh Patih Danureja IV. Bahkan Diponegoro meminta dan mengumumkan protes keras bahwa Patih Danureja IV harus dipecat dari jabatannya.

Namun, sultan memperoleh pengaruh dari Belanda agar tetap mempertahankan Patih Danureja IV. Hal ini lah yang memicu pertempuran besar di Jawa terjadi.

Jalannya Perang Diponegoro


Pangeran Diponegoro membuat pasukan yang bernama Perlawanan Rakyat. Pasukan ini mempunyai tujuan untuk mengusir penjajah. Dalam pasukan tersebut, perlawanan terhadap para penjajah lebih difokuskan untuk memperluas wilayah.

Bentuk perlawanan seperti ini dipilih oleh Diponegoro agar bisa terhindar dari tuduhan Belanda bahwa dia hanya menginginkan kekuasaan, namun tuduhan tersebut tetap dilayangkan kepada Diponegoro.

Dalam perjuangannya tersebut, Diponegoro mempunyai strategi yang jitu. Ia menyerukan ke semua masyarakat Mataram untuk berjuan mengusir para penguasa kolonial dari Belanda itu. Sebagaimana diriwayatkan bahwa seruan tersebut berisi :
"Saudara-saudara ditanah dataran! Apabila saudara-saudara mencintai saya, datang lah bersama-sama saya dan paman saya ke Selarong. Siapa saja yang mencintai saya, datang lah segera dan berisiap-siap untuk bertempur."

Seruan ini kemudian disebarluaskan kepada seluruh lapisan masyrakat Mataram. Para masyrakat merespon positif tindakannya itu dan memilih ikut untuk berjuang bersamanya. Dampak dari kejadian tersebut pun membuat daerah Selarong penuh sesak dengan para pasukan rakyat. Dan akhirnya perang besar melawan kolonial Belanda pun pecah dan bahkan sampai mencapai ke daerah Jawa Timur dan Jawa Barat.

Akhirnya perang melawan para penjajah dari Belandapun terjadi diberbagai macam daerah. Pasukan Diponegoro hampir selalu menang melawan para pasukan Belanda. Belanda pun akhirnya kewalahan, mereka memanggil bala bantuan yang berasal dari Madura dan beberapa daerah lainnya.

Akibat bala bantuan datang, kekuatan Belanda menjadi lebih kuat dan membuat para pejuang rakyat banyak yang gugur di medan perang.

Strategi dan Siasat Belanda Dalam Menghadapi Perang Diponegoro


Melihat kekuatan pasukan Diponegoro yang semakin besar dan meluas serta pantang menyerah, akhirnya Belanda merencanakan berbagai macam hal licik dan siasat untuk mengajak damai pasukan Diponegoro.

Adapun beberapa siasat-siasat Belanda pada saat itu :

  1. Sultan Hamengkubowono II (Sultan Sepuh) yang sebelumnya dibuang oleh Raffles ke Penang, akhirnya dibawa pulang ke Yogyakarta guna mendatangkan kedamaian sehingga para bangsawan yang tadinya memihak ke pangeran Diponegoro kembali memihak keraton dan Belanda. Namun, siasat tersebut tidak berhasil karena Sultan Sepuh sudah tidak mempunyai wibawa dan kekuatan lagi dan sesaat setelah itu beliau akhirnya meninggal.
  2. Jenderal De Kock dari Belanda memberikan rayuan yang menggiurkan kepada para pengikut Diponegoro, khususnya mereka yang sebelumnya memiliki kekuasaan. Mereka diimingi-imingin akan diberikan uang yang berlimpah dan kedudukan yang mereka inginkan. Siasat ini pun berhasil dan beberapa dari pengikut Diponegoro satu per satu mulai meninggalkannya.
  3. Pihak Belanda membuat benteng-benteng disekitar daerah-daerah yang berhasil direbut. Tujuannya adalah untuk memperkecil dan menutup ruang gerak pasukan Diponegoro.
  4. Dan siasat yang terakhir adalah membujuk Diponegoro agar bisa diajak berdamai dan bekerja sama. Namun siasat ini gagal.

Dan puncaknya adalah disaat Diponegoro diajak untuk berunding. Pada saat itu ia disergap dan karena dalam kondisi yang tidak siap perang, akhirnya Diponegoro dan pasukannya mudah sekali untuk ditangkap, dilucuti dan dimasukkan kedalam kendaraan yang sudah disiapkan Belanda dengan pengawalan ketat Mayor Ajudan de Stuers dan Kapten Roeps, akhirnya mereka pun dibawa ke Ungaran, Semarang.

Akhir Perang Diponegoro


Setelah dibawa ke Semarang, ia dibawa ke Batavia, kemudian dibawa ke tempat pembuangan Manado pada tanggal 3 Mei 1830 dengan para keluarga dan staffnya. Tercatat bahwa keluarga dan staffnya pada saat itu tidak kurang dari 19 orang.

4 tahun kemudian, atau pada tahun 1934 Diponegoro beserta pasukannya tersebut dipindahkan ke kota Makassar. Dan akhirnya pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat pada usia sekitar 70 tahun setelah menjalani masa tahanan kurang lebih 25 tahun.

Dampak Perang Diponegoro


Setelah perang Jawa atau perang Diponegoro berakhir, ada beberapa peristiwa yang menjadi dampak dari perang tersebut. Apa sajakah dampak tersebut?

  1. Belanda harus membayar kerugian sekitar 20 juta gulden. Jumlah tersebut sangat banyak pada saat itu dan membuat Den Bosch menciptakan cuultur stelsel.
  2. Terjadi bencana kelaparan diberbagai daerah tanah Jawa. Di Demak, sekitar 65% orangnya meninggal karena kelaparan. Sementara di Grobogan jumlah penduduknya hanya sekitar 9.000 saja karena 90% lainnya telah menjadi korban perang.
  3. Sultan Pakubuwana yang sebelumnya sangat mendukung Belanda, akhirnya berbalik menentang Belanda karena Belanda mencaplok wilayah kekuasaan kesultanan Surakarta. Akhirnya karena melawan Belanda, dia pun menjadi tahanan dan dibuang ke Ambon.

Peperangan Diponegoro ini sangat sengit dan menjadi saksi bisu betapa banyaknya usaha dan darah yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan negeri ini dari tangan-tangan para penjajah.

Nantikan artikel menarik lainnya tentang Sejarah hanya di blog Pintar Sekolah. Mohon dikoreksi jika ada yang salah dan jangan lupa bagikan ke teman-teman kamu.

Seorang siswa dari XI RPL 1 dan bersekolah di SMKN 1 Karawang. Hobi menulis dan sangat menggemari dunia web development, internet dan desain.

Silahkan berkomentar atau berpendapat melalui form dibawah. Berkomentarlah sesuai dengan isi artikel, link tidak akan ditampilkan, dan komentar yang mengandung unsur SARA tidak diperkenankan.
Jadilah orang yang bijak dan bisa menghargai orang lain
EmoticonEmoticon