Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api

Tags

Selamat datang di blog Pintar Sekolah, blog yang akan selalu memberikan dan menyajikan berbagai macam informasi bermanfaat tentang materi-materi mata pelajaran yang ada di sekolah. Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang mata pelajaran sejarah, lebih tepatnya sejarah peristiwa bandung lautan api.
Sejarah Peristiwa Bandung Lautan Api Pintar Sekolah

Usaha para pahawan bangsa setelah Indonesia merdeka masih belum berakhir, para pahlawan harus melindungi bangsa ini lebih lama lagi karena, walaupun negara Indonesia sudah merdeka, masih banyak penjajah yang berani menginjakkan kakinya dan merampas kekayaan Indonesia.

Tetapi, bukan hanya penjajah saja, bahkan para golongan yang menentang pemerintah pada saat itu dan ingin mendirikan negaranya sendiri juga ikut memberontak. Akhirnya, berbagai macam bentrokan pun tak terhindari. Perang terjadi dimana-mana terutama di area atau wilayah yang strategis.

Salah satu peristiwa yang sangat terkenal bahkan hingga sekarang adalah sejarah peristiwa bandung lautan api. Peristiwa tersebut adalah sebuah peristiwa dimana para pejuang bangsa yang berasal dan berada di kota Bandung secara bersama-sama membakar rumah mereka demi mengusir para penjajah.

Pada artikel kali ini, sejarah peristiwa bandung lautan api tersebut akan dibahas secara tuntas dari mulai latar belakangnya, pada saat terjadi hingga asal usul mengapa peristiwa tersebut disebut sebagai peristiwa Bandung lautan api.


Latar Belakang Terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api


Peristiwa Bandung lautan api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, Jawa Barat pada tanggal 23 Maret 1946. Dalam kurun waktu sekitar 7 jam, setidaknya ada 200.000 rumah penduduk yang dibakar oleh pemiliknya dan mereka semua meninggalkan kota Bandung menuju pegunungan yang terletak di daerah selatan kota Bandung.

Hal ini dilakukan dengan tujuan agar para sekutu dan tentara NICA Belanda tidak dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer mereka dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa ini dilatar belakangi oleh banyak hal, diantaranya :
  1. Brigade Mac Donald bersama sekutunya menginginkan gar semua senjata hasil lucutan dari penjajah Jepang diserahkan kepadanya.
  2. Sekutu mengeluarkan sebuah ultimatum dimana isinya memerintahkan agar wilayah utara kota Bandung dikosongkan dari warga masyarakat Indonesia paling lambat tanggal 29 November 1945.
  3. Sekutu membelah kota Bandung menjadi dua bagian, yaitu Bandung Selatan dan Bandung Utara.
  4. Adanya rencana kembali membangun markas sekutu di kota Bandung.


Untuk mengetahui latar belakang peristiwa Bandung lautan api ini silahkan kamu simak penjelasannya dibawah ini.

Pada tanggal 12 Oktober 1945, pasukan Belanda dari bagian Brigade MacDonald tiba di Bandung. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah Republik Indonesia juga sudah tegang dan semakin memanas saja. Apalagi ketika mereka menginginkan agar semua senjata hasil lucutan yang dimiliki oleh para penduduk, kecuali TKR dan Polisi diserahkan kepada mereka.

Orang-orang Belanda yang baru saja dibebaskan dari kamp tahanan akhirnya mulai melakukan berbagai macam tindakan-tindakan yang mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari.

Kronologi Terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api


Sekarang silahkan kamu simak penjelasan lengkap kronologis bagaimana peristiwa ini terjadi.

Melanjutkan latar belakang diatas, akhirnya Belanda mengeluarkan sebuah ultimatum yang isinya semua senjata hasil rampasan dari penjajah Jepang yang dimiliki oleh penduduk, kecuali yang dimiliki oleh TKR dan Polisi segera diberikan kepada Belanda.

Selain itu, isi dari ultimatum tersebut juga mengharuskan agar wilayah kota Bandung dikosongkan dari masyarakat Indonesia dan paling lambat tanggal 19 November 1945. Alasannya adalah demi keamanan rakyat.

Ditambah lagi, orang-orang Belanda yang baru saja dilepaskan dari kamp tawanan malah melakukan berbagai macam hal-hal yang mengganggu keamanan. Hal ini tentunya semakin menambah kemungkinan terjadinya bentrokan antara tentara Inggris dengan TKR (Tentara Keamanan Rakyat).

Saat malam hari tanggal 21 November 1945, TKR serta para pejuang rakyat melancarkan serangan kepada keduduka-kedudukan Inggris yang berlokasi di Bandung utara. Hotel Homann dan hotel Preanger juga tidak luput dari serangan karena dua tempat tersebut dijadikan sebagai markas oleh musuh.

Mendengar hal ini, akhirnya setelah 3 hari kemudian MacDonald mengirim sebuah ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat. Ultimatum tersebut berisi agar Bandung bagian utara segera dikosongkan demi keamanan rakyat, termasuk dikosongkan juga dari pasukan bersenjata.

Masyrakat Indonesia yang mengetahui hal ini tetap mengabaikannya, akhirnya terjadilah perang antara tentara sekutu dengan pejuang Bandung pada tanggal 6 Desember 1945.

Lalu, pada tanggal 23 Maret 1946 sekutu kembali mengirim sebuah ultimatum. Isi dari ultimatum tersebut memerintahkan agar TRI (Tentara Republik Indonesia) yang sekarang sudah menjadi TNI agar meninggalkan kota Bandung. Pemerintah Indonesia yang berada di Jakarta akhirnya menginstruksikan agar TRI segera meninggalkan kota Bandung demi alasan keamanan rakyat.

Tetapi, instruksi tersebut berbeda dengan perintah yang diberikan oleh pemerintah yang ada di Yogyakarta. Mereka memerintahkan agar TRI agar tetap berada di kota Bandung. Pada saat yang sama, sekutu juga membagi kota Bandung menjadi dua sektor, yaitu sektor Bandung utara dan Bandung selatan. Dan sekutu memerintahkan agar sektor Bandung utara segera dikosongkan.

Akibatnya, suasana dan kondisi di kota Bandung semakin mencekam dan dipenuhi oleh orang-orang yang panik dan kebingungan. Selain itu, TRI dan para pejuang juga kebingungan dengan dua instruksi berbeda dari pusat pemerintah yang ada di Jakarta dan Yogyakarta. Akhirnya, mereka mengambil keputusan untuk melancarkan sebuah serangan besar kepada sekutu pada tanggal 26 Maret 1946.
Baca Juga
Para pejuang indonesia akhirnya menyerang pos-pos sekutu. Mereka juga membakar semua isi kota Bandung wilayah utara tanpa terkecuali. Setelah sukses membumihanguskan kota Bandung, barulah mereka pergi mengundurkan diri dari Bandung utara. Aksi ini setidaknya melibatkan 200.000 orang dan berlangsung selama 7 jam.

Tujuan Membakar Kota Bandung


Tetapi, mengapa para pejuang lebih memilih keputusan untuk membakar kota Bandung dan isinya lalu mengundurkan diri? Ternyata, hal ini juga memiliki beberapa tujuan tertentu. Berikut ini penjelasan mengapa para pejuang memilih untuk membakar kota Bandung dan isinya.

Mereka memilih untuk membakar kota Bandung agar para sekutu dan tentara NICA Belanda tidak bisa menggunakan kota Bandung sebagai markas militer mereka dalam perang kemerdekaan Indonesia.

Operasi pembakaran ini dikenal dengan istilah “bumihangus”. Keputusan untuk membumihanguskan kota Bandung diambil secara musyawarah oleh Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) didepan seluruh kekuatan para pejuang bangsa Indonesia pada tanggal 23 Maret 1946.

Hasil musyawarah tersebut diumumkan oleh Kolonel Abdoel Haris Nasoetion sebagai Komandan Divisi III TRI. Dia juga menyuruh agar warga Bandung segera melakukan evakuasi. Akhirnya rombongan besar warga kota Bandung mengalir dan pada malam hari mereka membakar kota Bandung lalu meninggalkannya.

Dengan terbakarnya kota Bandung seperti ini, akhirnya sekutu tidak bisa menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer. Awan hitam juga turut menyelimuti seluruh kota Bandung dan semua listrik juga ikut padam.

Didalam kondisi genting seperti ini, sekutu juga melakukan berbagai serangan. Bentrokan yang paling besar antara sekutu dengan para pejuang terjadi di Desa Dayeuhkolot yang berlokasi di Bandung selatan  Di desa inilah semua amunisi sekutu tersimpan.

Ternyata, dua orang pejuang bangsa, yaitu Muhammad Toha serta Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) mendapatkan misi rahasia untuk menghancurkan gudang amunisi terbesar miliki sekutu tersebut. Mereka menggunakan dinamit untuk menghancurkan gudang tersebut. Tetapi, sayangnya dua milisi tersebut juga ikut terbakar dalam peledakan yang dilakukan keduanya.

Lalu, awalnya staf pemerintahan kota Bandung berencana untuk tetap berada di kota Bandung. Tetapi demi keselamatan mereka, akhirnya pada pukul 21.00 mereka juga ikut bersama rombongan warga Bandung untuk melakukan evakuasi.

Mulai sejak saat itulah sekitar pada pukul 24.00 atau tepat tengah malam, kota Bandung kosong dari masyarakat serta TRI. Sementara api masih terus melahap kota Bandung sehingga Bandung menjadi kota lautan api.

Strategi tersebut dinilai sangat tepat mengingat bahwa kekuatan milisi dari para pejuang bangsa tidak sebesar kekuatan yang dimiliki oleh sekutu dan tentara NICA Belanda. Setelah peristiwa Bandung lautan api tersebut, milisi para pejuang juga masih tetap melakukan penyerangan dari luar kota Bandung dengan cara bergerilya.


Istilah Bandung Lautan Api


Lalu, mengapa peristiwa tersebut terkenal dan sangat sering disebut sebagai peristiwa Bandung Lautan Api? Ternyata ada beberapa alasan dan penyebab adanya istilah bandung lautan api.

Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang hadir dalam pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika) setelah kembali dari pertemuannya dengan Sutan Sjahrir di Jakarta memutuskan sebuah strategi yang akan dilakukan terhadap kota Bandung setelah ultimatum dari Inggris dicetuskan.

Berikut ini kutipan dari apa yang beliau katakan dulu.

“Jadi saya kembali dari Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat, “Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan api, tetapi sebenarnya lautan air.”-A.H Nasution, 1 Mei 1997

Selain itu, istilah Bandung Lautan Api juga keluar di harian Suara Merdeka pada tanggal 26 Maret 1946.
Seorang wartawan muda yang bernama Atje Bastaman yang kebetulan pada saat itu berada di bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut menyaksikan sebuah pemandangan pembakaran kota Bandung. Dari puncak bukit itu, Atje Bastaman bisa dengan jelas melihat kota Bandung memerah mulai dari wilayah Cicadas sampai Cimindi.

Setelah pulang dari bukit tersebut dan kembali ke Tasikmalaya, Atje sangat bersemangat menulis berita tentang kejadian apa yang dilihatnya dan memberi judul “Bandoeng Djadi Laoetan Api“. Namun, karena kurangnya ruang untuk judul tersebut, akhirnya judulnya disingkat dan menjadi “Bandoeng Laoetan Api“.

Setelah kejadian Bandung lautan api tersebut berakhir. Akhirnya mulai tersebarlah sebuah lagu yang hingga kini dikenal sebagai salah satu lagu kebangsaan, yaitu lagu Halo Halo Bandung. Lagu tersebut mengekspresikan kenangan tentang emosi para pejuang bangsa Indonesia yang ingin segera pulang ke kota yang mereka cintai.

Beberapa tahun kemudian, akhirnya lagu “Halo-Halo Bandung” pun resmi ditulis.

Nantikan artikel menarik lainnya tentang Sejarah hanya di blog Pintar Sekolah. Mohon dikoreksi jika ada yang salah dan jangan lupa bagikan ke teman-teman kamu.

Seorang siswa dari XI RPL 1 dan bersekolah di SMKN 1 Karawang. Hobi menulis dan sangat menggemari dunia web development, internet dan desain.

4 komentar

walahh jadi seperti itu latar belakangnya, makasih banget bro infonya :D

Iya gan, begitulah latar belakang dari peristiwa bandung lautan api ini :D

dulu cuman taunya bandung lautan api tuh salah satu lagu yang sering di nyanyiin kalo upacara bendera pas SD, teryata seperti ini sejarahnya :D

Nah sekarang kan jadi tahu sejarah lengkapnya peristiwa dan asal muasal Bandung Lautan Api :D

Silahkan berkomentar atau berpendapat melalui form dibawah. Berkomentarlah sesuai dengan isi artikel, link tidak akan ditampilkan, dan komentar yang mengandung unsur SARA tidak diperkenankan.
Jadilah orang yang bijak dan bisa menghargai orang lain
EmoticonEmoticon