Friday, June 9, 2017

Pemberontakan PKI Madiun

Tags

Selamat sore dan kembali bertemu lagi bersama saya di Pintar Sekolah. Sebelum memulai pembelajaran pada artikel hari ini, saya ingin mengucapkan terima kasih pada kalian yang sering atau memang sudah menjadi pengunjung setia Pintar Sekolah. Kemarin, pada tanggal 8 Juni 2017, Pintar Sekolah sudah mempunyai domain .com dan bisa diakses melalui alamat baru, yaitu :

www.pintarsekolah.com




Walaupun sudah mempunyai domain baru, kamu tetap bisa mengakses Pintar Sekolah melalui alamat yang dulu, yaitu http://klasonline.blogspot.com dan secara otomatis kamu akan diarahkan ke Pintar Sekolah, jadi kamu tidak perlu khawatir.

Baiklah, artikel hari ini adalah artikel pertama Pintar Sekolah dalam kategori sejarah, dan pada artikel pertama dalam kategori sejarah ini Pintar Sekolah akan memberikan materi tentang Pemberontakan PKI Madiun. Mungkin kamu sudah pernah dengar tentang PKI atau memang sudah mempelajarinya di sekolah, maka tidak ada salahnya untuk mengetahui lebih dalam lagi, bukan?

Pemberontakan PKI Madiun Pintar Sekolah

Sebelumnya apakah kamu sudah mengetahui apa yang dimaksud dengan PKI? PKI adalah singkatan dari Partai Komunis Indonesia. Yaitu sebuah partai yang anggotanya tidak mempunyai agama, serta sebuah partai yang berusaha merebut kekuasaan sebuah negara dengan cara apapun. PKI juga merupakan partai komunis terbesar didunia setelah Rusia dan Tiongkok. Dulu, PKI ini merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap bangsa Indonesia walaupun Indonesia sudah merdeka. Hingga saat ini, peristiwa PKI sudah sangat terkenal dan PKI sudah dilarang keberadaannya.

Pada awal mula pembentukannya, PKI memilih satu kota untuk dijadikan sebagai wilayah penyebarannya, dan kota tersebut adalah Madiun.

Awal Mula Pemberontakan PKI Madiun


Tahukah kamu apa yang menjadi penyebab atau latar belakang terjadinya aksi pemberontakan PKI yang terjadi di kota Madiun? Pada saat itu ada seseorang yang bernama Amir Syarifuddin yang berusaha untuk menjatuhkan kabinet Hatta. Karena usahanya tak kunjung berhasil, ia pun membentuk sebuah Frond Demokrasi Rakyat (FDR) pada tanggal 28 Februari tahun 1948 yang berlokasi di Surakarta. Ada beberapa partai lain yang ikut andil dalam pembentukan FDR ini dan menjadi salah satu dari bagian penting FDR, partai-partai tersebut diantara lain adalah Partai Sosialis Indonesia, PKI, Pesindo, PBI, dan Sarbupri.

Untuk mencapai tujuannya, ada beberapa strategi FDR yang telah diketahui, yaitu :

  1. Membuat rakyat tidak percaya terhadap pemerintah melalui tindakan-tindakan seperti pemogokan umum dan berbagai kekacauan lainnya.
  2. FDR menarik pasukan tempur Pro-FDR dari medan perang untuk melindungi wilayah daerah yang telah dikuasai.
  3. FDR menjadikan Madiun sebagai markas pertahanan utama dan kota Surakarta sebagai medan perang yang berfungsi untuk mengalihkan perhatian dan menghadang TNI (Tentara Negara Indonesia).
  4. Didalam parlemen, FDR berusaha keras untuk membentuk Front Nasional yang mempersatukan semua partai sosial-politik guna menggulingkan kabinet Hatta.
Seluruh kegiatan FDR dikendalikan penuh oleh PKI sejak ketua PKI sendiri, Muso kembali dari Uni Soviet. Muso sebagai pemimpin PKI memberikan anjuran agar seluruh partai yang terlibat dalam FDR agar meliburkan diri terlebih dahulu. Selanjutnya PKI menyusun pilotbiro (dewan politik) dan Muso menjabat sebagai ketuanya dan Amir Syarifuddin sebagai sekretaris pertahanannya.
Baca Juga
Selanjutnya, Muso dan Amir Syarifuddin mengelilingi berbagai kota dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur guna menjatuhkan wibawa pemerintah dan dengan cara mempropagandakan PKI beserta semua program-programnya. Sambil menjelek-jelekkan pemerintah, PKI terus mempersengit persaingan antara TNI yang pro-PKI dan pro-pemerintah dan mulai dari sini pecahlah sebuah pemberontakan PKI di Madiun atau sering juga disebut sebagai Madiun Affair.

Puncak Pemberontakan PKI di Madiun


Pada tanggal 11 September tahun 1948 di kota Surakarta, pasukan pro-PKI (divisi IV) melakukan pemberontakan dan berhasil menarik perhatian pemerintah. Hasilnya, pasukan pro-pemerintah RI (Siliwangi) pun melawan pasukan pro-PKI. Dan pemerintah menunjuk Kolonel Gatot Subroto sebagai Gubernur Militer yang meliputi wilayah Surakarta, Pati, Semarang, dan Madiun. Dan pada akhirnya tanggal 17 September 1948 pasukan pro-PKI pun mundur dari Surakarta.

Sebenarnya, kekacauan di Surakarta tersebut hanyalah untuk menarik perhatian TNI. Pada saat seluruh pasukan TNI terjun ke medan perang, Sumarsono dari Pesindo dan Letnal Kolonel Dahlan dari Brigade 29 yang pro-PKI pergi ke Madiun dan berhasil menaklukan kekuasaan pemerintah di Madiun pada tanggal 18 September 1948. Pada saat menaklukan pemerintah Madiun, PKI juga melakukan berbagai macam tindakan keji seperti melakukan penangkapan terhadap militer, pejabat sipil, tokoh masyarakat dan setelah itu mereka pun langsung membuat sebuah pemerintahan Soviet Republik Indonesia di Madiun.

Pada saat kudeta tersebut, Muso dan Amir Syarifuddin sedang berada di Purwodadi. Mendengar kabar pasukannya berhasil mengambil alhi Madiun, mereka pun langsung bergegas ke Madiun dan mengambil alih kepemimpinan. Dan secara resmi dideklarasikan lah Soviet Republik Indonesia di Madiun. Hal ini memperjelas dugaan bahwa PKI adalah dalang utama dibelakang pemberontakan FDR di Madiun ini.

Penumpasan PKI di Madiun


Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah RI pun yang dipimpin oleh presiden Soekarno langsung mengambil sikap tegas. Presiden Soekarno memberikan pilihan kepada rakyatnya untuk bergabung dengan pasukan PKI atau ikut dengan pemerintahan Indonesia yang dipimpin oleh Soekarno-Hatta. Rakyat pun menyambutnya dengan sikap berani untuk tetap ikut kedalam pemerintahan Republik Indonesia. Selanjutnya, pemerintahpun menginstruksikan kolonel Sadikin dari divisi Siliwangi untuk menyerang kota Madiun dan merebutnya kembali.

Kolonel Sadikin pun denga gagah berani bersama pasukannya dan dibantu oleh rakyat menyerang kota Madiun. Dengan segala kekuatan akhirnya Indonesia pun berhasil kembali merebut kota Madiun dari PKI pada tanggal 30 September 1948. Muso sebagai ketua PKI di Madiun tertembak dalam pengejarannya di Ponorogo, sementara Amir Syarifuddin berhasil ditangkap di Purwodadi. Dan akhirnya setelah berhasil membersihkan daerah-daerah disekeliling Madiun pada bulan Desember 1948, operasi pun dinyatakan telah selesai.

Sungguh betapa hebatnya perjuangan para pahlawan demi melindungi negara Indonesia ini, kita sebagai generasi muda penerus bangsa harus bisa mempertahankan NKRI dan mengharumkan nama bangsa. Itulah kisah nyata pemberontakan PKI di Madiun mulai dari latar belakang, puncaknya, hingga penumpasan PKI.

Mohon dikoreksi jika ada yang salah, jangan lupa untuk memberikan pendapatmu dikolom komentar dan bagikan juga ya ke teman-temanmu agar mereka juga mengetahui informasi ini.

Seorang siswa dari XI RPL 1 dan bersekolah di SMKN 1 Karawang. Hobi menulis dan sangat menggemari dunia web development, internet dan desain.

Silahkan berkomentar atau berpendapat melalui form dibawah. Berkomentarlah sesuai dengan isi artikel, link tidak akan ditampilkan, dan komentar yang mengandung unsur SARA tidak diperkenankan.
Jadilah orang yang bijak dan bisa menghargai orang lain
EmoticonEmoticon